Sunday, January 15, 2017

Trip ke Bali Part # 7 (Bali Pulina)

 Setelah selesai menikmati Tegalalang Rice Terrace, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat selanjutnya yaitu salah satu sentra pembuatan kopi luwak tradisional. Tempat itu namanya adalah Bali Pulina, lokasinya masih berada di Ubud. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja dari Tegalalang ke arah menuju Kintamani Highland. Saat itu cuaca masih rintik hujan dan cukup sejuk, dan pas sekali jika diselingi dengan menikmati kopi luwak hangat.

Sesampai di TKP, kami disuguhi tempat yang merupakan kebun kopi yang berada di lereng ketinggian. Tidak tampak bangunan kafe ataupun warung, lalu kami disambut oleh petugas sekaligus pemandu yang akan memberikan beberapa penjelasan tentang tempat tersebut. Kami diarahkan melewati perkebunan kopi yang cukup lebat dan tertata rapi sambil dijelaskan jenis-jenis kopi apa saja yang ditanam serta kandungan kafein dari kopi tersebut. Kemudian kami melewati kandang luwak yang didalamnya ada beberapa ekor luwak yang sedang makan buah kopi.

Kemudian kami diajak lagi menuju ke sebuah bangunan seperti gubuk yang merupakan tempat pengolahan hasil akhir dari biji kopi. Terakhir kami diarahkan ke salah satu bangunan kafe yang cukup luas dan berada tepat di lereng ketinggian. Kafe itu berada tepat menghadap ke arah jurang yang disebrangnya terdapat hutan lebat, dan beberapa sisi lerengnya juga terdapat sawah teras.  Hemm indah sekali pemandangannya dan sejuk, yang tak kalah menarik juga adalah furniture di kafe didesain sedemikian rupa dengan mengusung nuansa etnis, tempatnya sangat nyaman. Tempatnya cocok sekali untuk keluarga, selain menikmati kopi juga ada sisi edukasinya.

Di cafe itu pengunjungnya cukup banyak, yang mendominasi adalah pengunjung dari luar Indonesia alias bule. Sebelum memilih tempat duduk, kami terlebih dahulu untuk menemui petugas perempuan seperti kasir namun bukan kasir. Kami ditawari beberapa minuman hangat tentunya kopi luwak yang merupakan unggulan disana, kami memesan masing-masing satu cangkir. Selain itu kami juga disuguhi beberapa minuman tradisional dari jamu sampai minuman lain serta camilan sejenis dipotong kecil-kecil seukuran korek api dan dimasak sedemikian rupa tanpa minyak, dan pastinya dengan campuran bumbu lokal dan gratis alias tidak bayar. Rasanya enak asin gurih dengan tekstur krispy. Kebetulan kami memesan makanan berat, karena rencana makan siang nanti di Kintamani Highland.

Disini juga disediakan teras cukup luas  yang viewnya langsung menghadap ke hutan dan jurang, hemm udara sejuk dan pemandangan indah menyatu. Setelah ngobrol-ngobrol dan menikmati suasana serta berfoto-foto, kami memutuskan untuk segera lanjut ke tujuan berikutnya. Untuk masalah bayar ternyata tidak dilakukan diarea kafe tersebut namun harus berjalan lagi menuju bangunan dengan melewati tanaman-tanaman kopi. Di kasir juga disediakan beberapa produk oleh-oleh, seperti kopi bubuk dan banyak produk lainya. Setelah pembayaran dilakukan, kami langsung menuju pintu keluar yang jalurnya terpisah dari pintu masuk. Jika teman-teman merupakan pecinta kopi, maka wajib untuk datang ke Bali Pulina, Ubud mencicipi kopi dan menikmati suasananya.





Sunday, December 4, 2016

Trip ke Bali Part # 6 (Ubud : Tegalalang Rice Terrace)

Setelah selesai menyaksikan pertunjukan Calonarang di Padang Bulan, perjalanan kami lanjutkan ke tujuan utama yaitu Tegalalang Rice Terrace. Tempat ini merupakan lokasi yang sangat populer di Bali karena menyajikan pemandangan dari sawah-sawah yang berada di lereng bukit. Hampir semua iklan wisata Indonesia selalu memasukan foto lokasi ini sebagai ikon untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Perjalanan dilakukan cukup lama, sekitra 1 jam atau apalah...sudah lupa juga. Perjalanan dari Padang Bulan sendiri selalu menanjak jika menuju Ubud, jadi jika naik motor pastikan motornya benar-benar fit dan tidak low power jika tidak ingin motornya malah jalan balik kebelakang.

Sesampai di lokasi, OMG sungguh indah pemandangan yang tersaji di Tegalalang ini dan sesuai dengan yang sering saya lihat di gambarnya di internet artinya sesuai ekspektasi sebelumnya. Pada siang itu cuaca cukup sejuk karena memang lokasi ini berada di dataran tinggi, serta pada siang itu Tegalalang baru saja diguyur hujan. Udaranya sangat segar ditambah lagi lokasi lereng-lereng tepi jalan banyak terdapat warung-warung dan cafe yang bangunnya sangat khas bangunan Bali.  Masih tersisa hujan rintik-rintik dan kebetulan juga Pak Putu bawa beberapa payung di dalam mobilnya, sehingga kami tidak perlu untuk menyewa payung di lokasi. 

Tanpa waktu lama yang namanya naluri narsis langsung menghinggapi kami, jepret jepret beberapa foto sudah tersimpan dengan berbagai pose. Setelah cukup puas menikmati pemandangan di depan cafe sisi jalan itu, rasanya tidak afdol jika tidak langsung berjalan-jalan di lokasi persawahannya. Walaupun cuaca masih rintik dan tanahnya masih basah, tidak mengurungkan niat saya untuk ke berjalan mengitari persawahan di lereng bukit-bukit tersebut. Kebetulan saya hanya sendiri karena pada saat itu dua teman saya tidak mau diajak ke sawah-sawah dengan alasan becek dan basah. Dari depan kami berfoto saya langsung turun mencari jalan untuk menuju persawahan di sebrang sana. Kondisi sawahnya sendiri belum begitu hijau, karena baru ditanami.


Cukup susah payah perjuangan saya turun karena tanahnya basah dan tidak ada jalan yang ideal, tetapi saya tidak menyerah. Setelah sampai di dasar jurangnya saya menemukan jembatan kecil untuk menyebrang dan di jembatan itu kita diminta untuk memberikan donasi. Setelah melewati jembatan itu, akhirnya sampai juga saya di tujuan utama saya di sawah yang ikonik sekali. Jalan menanjak kembali karena sawahnya semakin keatas. Hemm sangat indah dan emejing lah...saya tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata.


Sempat beberapa kali mengambil foto selfie, karena tidak ada yang motoin. Dan akhirnya ada sepasang turis dari India yang minta difotokan, dan sayapun juga balik minta difotokan oleh mereka hehe akhirnya dokumentasi sayapun tidak lagi melulu selfie. Setelah puas menikmati dan kebetulan juga sudah dipanggil, akhirnya saya menuju untuk kembali ke tempat asal. Ketika perjalanan pulang saya baru tau ternyata jalan menuju tempat saya tadi sudah ada trek khusus yang disediakan dengan kondisi jalan tangga sudah dibeton. Hedehhh jadi ternyata tadi salah jalan tohhh hahaha... Tapi nda papa pengalaman dan latihan di jalan basah, apalagi saya cuman pakai sendal jepit. Tapi tanah di tempat itu cukup stabil dan tidak licin karena bukan tipe tanah licin sepeti tanah merah.


 
Tips bagi yang mau jalan-jalan di area sawah Tegalalang, kalau bisa sebelum menjelajah sebelumnya sudah olahraga kaki dulu seperti joging agar jika di TKP nanti kaki tidak keram karena tanjakannya cukup tinggi. Kemudian kalau bisa pakai sendal gunung, jangan sendal jepit karet apalagi sendal yang haknya tinggi karena kurang enak dipakai di trek itu. Dan bagi yang takut ketinggian siap-siap sedikit deg-degan pas turunnya, tapi nda papa lama-lama juga bakal hilang deg-degannya hehe... Berlajut ke artikel selanjutnya.



Wednesday, November 30, 2016

Trip ke Bali Part # 5 (Pertunjukan Calonarang)


Pagi-pagi sekali setelah kami selesai sarapan di hotel, tidak berapa lama travel jemputan telah tiba. Setelah semuanya dipersiapkan, kami langsung berangkat menuju ke Ubud tepatnya Tegalalang Rice Terrace yang sangat ikonik sekali. Perjalanan pada pagi itu ramai lancar namun cuaca sedikit mendung, dan sudah mulai turun hujan. Sebelum ke TKP utama kami ditawari oleh Pak Putu selaku driver kami untuk mampir dahulu ke Padang Bulan untuk melihat pertunjukan seni tari dan peran yaitu Calonarang.

Sesampai di Padang Bulan kondisi sedang hujan ringan, kami langsung menepi untuk parkir. Ternyata sudah banyak wisatawan yang parkir dan berada disana untuk menikmati pertunjukan itu, pengunjung yang mendominasi adalah pengunjung mancanegara. Setelah membayar tiket masuk, saya lupa berapa harga perorangnya maka kami langsung dipersilakan untuk masuk ruang pertunjukan yang tempat duduknya di desain meninggi ke belakang seperti di bioskop. Kami memilih duduk di bagian deretan bangku agak diatas.

Kursi penonton pada saat itu terisi penuh dari yang muda sampai pengunjung sudah lanjut usia. Pertunjukan berlangsung lebih dari satu jam, dan pertunjukan itu persis sekali dengan yang pernah saya lihat di salah satu program Lilacita di Bali TV. Dari tari-tarian khas Bali, barong dan lain-lain dipentaskan semuanya disana. Karena menggunakan bahasa Bali maka saya tidak paham sama sekali dialognya, namun setiap pengunjung diberi satu lembar teks berbahasa Indonesia dan berbagai bahasa asing lainnya, yang tujuannya agar tetap bisa memahami alur cerita.

Setelah satu jam lebih pertunjukan telah usai dipentaskan, menurut saya cukup menghibur apalagi saya orang Kalimantan belum pernah melihat secara langsung dan bukan merupakan penikmat seni teater. Tapi jika kalian merupakan pecinta seni pertunjukan teater maka pertunjukan Calonarang ini jangan sampai dilewatkan. Setelah selesai foto-foto di tempat itu kami langsung menuju keluar untuk melanjutkan perjalanan ke Tegalalang menjelang siang itu.

Sunday, October 30, 2016

Trip ke Bali Part # 4 (Tanah Lot & Bedugul)

Sambungan dari Trip ke Bali Part # 3 (Rafting di Ubud) Di hari ke-3 kami di Bali, rencana jalan-jalan kami selanjutnya adalah ke dua lokasi yaitu Tanah Lot dan Bedugul. Pada pagi ini kami ada sedikit pembahasan, karena salah satu anggota ingin ke Tanah Lota di pagi hari kemudian lokasi kedua atau terakhir adalah Bedugul. Sedangkan saya mengusulkan ke Tanah Lot adalah lokasi ke dua supaya nanti di Tanah Lot dapat menikmati sunset. Setelah perdebatan cukup alot akhirnya kami sepakat ke Tanah Lot terlebih dahulu.

Perjalanan ke Tanah Lot kami lakukan setelah sarapan pagi sekitar pukul 07.00. Untuk perjalanan yang lumayan jauh kami sengaja menggunakan jasa mobil rental lengkap dengan sopirnya, dikarenakan kami semua belum mengenal lalu lintas di daerah Bali, walaupun salah satu anggota sudah pernah ke Bali beberapa tahun lalu ketika masih SMA, namun dia juga belum begitu memahami wilayah Bali. Perjalanan dari Kuta menuju tanah Lot yang terletak di bagian timur Pulau Bali cukup lancar pada hari itu. Di beberapa titik terdapat bentangan persawahan yang indah dan menarik menurut saya, karena di Kalimantan sendiri tidak terdapat sawah yang bertingkat-tingkat.

Sesampai di Tanah Lot, tampak tempat wisata itu sangat ramai oleh pengunjung, baik pengunjung lokal ataupun mancanegara. Namun untuk turis mancanegara yang mendominasi adalah orang-orang dari ras kulit kuning, entah mereka orang Cina, Jepang atau Korea tipe wajahnya sama semua. Lokasi di Tanah Lot tidak terlalu luas dan terdiri dari tebing tinggi yang menjorok ke Laut, serta yang tidak kalah indahnya adalah Pura Tua Tanah Lot yang sangat ikonik yang berada di tengah Laut. Sayang pada siang itu air laut pasang sehingga kami tidak bisa turun ke dasar dan menaiki sisi pura tersebut. Apabila air tidak pasang wisatawan bisa berjalan-jalan dibawahnya dan naik ke atas pura. Setelah puas berjalan-jalan disana, dan karena cuaca pada saat itu sudah cukup panas terik, kami memilih untuk beristirahat duduk-duduk di salah satu gazebo yang ada disana sambil menikmati udara segar, semilir angin dan makanan kecil yaitu rujak yang dijual oleh penduduk lokal.


Setelah sudah puas berada di Tanah Lot kami langsung lanjutkan perjalanan menuju Bedugul. Perjalanan cukup jauh menuju ke arah utara pulau bali jika dari Tanah Lot. Tidak lupa sebelum meninggalkan Tanah Lot saya minta berhenti sebentar di tepi jalan disamping hamparan sawah yang cukup indah yang lokasinya belum jauh dari Tanah Lot  untuk bernarsis terlebih dahulu. Hampir sepanjang perjalanan menuju Bedugul kami melewati wilayah persawahan dan perbukitan hijau yang hutannya cukup rindang karena wilayah bedugul sendiri terletak di dataran tinggi.

Sesampainya kami di Bedugul, pertama-tama kami mampir ke salah satu rumah makan yang letaknya bersebrangan dengan objek tujuan utama kami, karena kebetulan pada saat itu sudah merupakan jam makan siang. Rumah makannya bisa dibilang sangat besar, karena waktu itu adalah jam makan siang sehingga rumah makannya sangat ramai bisa dikatakan penuh sehingga kami hampir saja tidak mendapat meja. Makanan yang dijual disini konsepnya adalah “all you can eat” atau sekali bayar makan sepuasnya kecuali softdrink atau minuman beralkohol tidak termasuk.

Setelah dipastikan sudah kenyang kami langsung menuju tujuan utama kami yaitu Pura Ulun Danu Bratan yang terletak di atas danau Bratan yang sisi sepanjang danau dikelilingi oleh bukit dengan tinggi. Pura ini merupakan pura yang sangat ikonik sekali, karena hampir disetiap poster, reklame atau web wisata bali selalu menampilkan lokasi ini sebagai objek promosinya. Jika masih belum ngeh juga, saking ikoniknya pura ini juga dijadikan gambar pada sisi uang kertas IDR 50.000. Tidak jauh berbeda dengan beberapa lokasi wisata di Bali, di pura ini juga dikenakan biaya masuk yang sangat terjangkau.

Luar biasa indahnya lokasi ini menurut saya, perpaduan antara budaya dan alam pegunungan menyatu manjadi satu keindahan yang sangat khas, dan hanya ada di Bali hehe... Puranya sendiri karena berada di tengah danau yang bening dan hijau tua seolah-olah pura tersebut seperti mengambang di air. Bentangan bukit hijau tinggi di ujung danau menambah keteduhan suasana pada saat itu. Boleh dikatakan loaksinya sangat romantis sekali, apalagi lokasinya sendiri berada di dataran tinggi sehingga iklim dan udara ditempat disana menjadi lebih sejuk dan segar.

Selain aktivitas berjalan-jalan mengitari lokasi pura, disini juga tersedia speed boat yang bisa disewa untuk menjelajah atau berkeliling danau. Salah satu atraksi yang saya ingin sekali coba namun tidak kesampaian yaitu petualangan menyusuri danau menggunakan perahu kayak yang muatnya hanya satu orang, karena pada saat itu saya tidak bawa pakaian ganti karena sebelumnya belum mengetahuinya. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi lokasi pura dan sisi danau, kami memutuskan untuk kembali pulang karena waktu sudah menunjukan sore hari. Di perjalanan pulang saya sempatkan lagi untuk bernarsis disisi salah satu hamparan sawah hehehe...saya memang terobsesi sekali dengan yang namanya sawah J. Sesampai di Kuta hari sudah gelap, seperti biasa setelah mandi dan makan malamnya lanjut kelayapan lagi hehe... Berlanjut ke Part # 5.

Sunday, October 23, 2016

Trip ke Bali Part # 3 (Rafting di Ubud)

Sambungan dari Catper Trip ke Bali Part # 2 (Bali Nightlife) Pagi-pagi sekali kami harus bangun dari tidur dibantu oleh alarm HP, setelah tadi malam habis sedikit berparty-party ria.  Mungkin karena kualitas tidur saya cukup baik atau saking semangatnya karena mau ke Ubud sehingga saya tidak merasa terlalu mengantuk di pagi itu. Setelah semua selesai mandi, kami langsung menuju cafe untuk sarapan pagi kemudian ke lobby hotel untuk menunggu jemputan yang akan mengantar kami ke TKP. Supaya perjalanan lancar maka pagi itu saya putuskan untuk hubungi kembali pemilik travel agent untuk memastikan jemputan kami, informasi dari beliau bahwa sopir sudah berada di sekitar hotel tempat kami menginap. Ternyata memang benar bahwa sopir yang akan menjemput kami sudah berada di sekitar lokasi penginapan, hemm ontime juga pikir ku, malahan kami yang hampir ngaret hehe...



Setelah semua perlengkapan dipastikan tidak ada yang tertinggal maka kami langsung meluncur menuju Ubud, perlengkapan yang kami perlukan untuk moment kali ini adalah masing-masing 1 stel baju dan celana ganti beserta CD nya hehe.. Maklum kegiatan kali ini adalah aktifitas rafting (arung jeram) dan bermain air, yang sudah pasti akan berbasah-basah ria nantinya. Sekita jam 07.00 pagi (kalau tidak salah, soalnya agak lupa) kami langsung meluncur menuju Ubud dengan travel yang sudah disediakan oleh Graha Adventure selaku travel agentnya, yang pasti pelayanan antar jemput sudah termasuk harga dalam paket rafting, rafting sendiri akan dilakukan tepatnya di Sungai Ayung, Ubud, Bali. Perjalanan ke Ubud sendiri tidak terlalu jauh dari Kuta, sementara cuaca terlihat sangat cerah dan bersahabat. Dikarenakan hari itu adalah hari Minggu sehingga lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan menuju Ubud tidak macet alias ramai lancar. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat unik dan menarik karena dipengaruhi oleh budaya Hindu nya yang sagat kental terutama mempengaruhi bangunan-bangunan yang ada disana.



Sesampai di tempat yang dituju alias markas Graha Adventure kami disambut dengan ramah oleh bapak pemiliknya, tempat berkumpulnya lumayan besar dan didesain seperti cafe dengan arsitek nuansa pedesaan Bali yang atapnya terbuat dari ilalang, furniturenya sendiri banyak menggunakan potongan kayu-kayu besar yang sengaja lekuk-lekuk kayu nya tidak dibuang sehingga memberikan kesan sangat natural dan pastinya serasi dan nyaman. Disana tamu disiapkan makanan-makanan kecil dan minuma hangat seperti teh hangat atau kopi Bali yang khas yang pasti serba gratis kecauli minuman beralkohol. Banyak turis asing maupun lokal yang sudah berkumpul disana, sudah pasti tujuannya juga akan melakukan kegiatan rafting seperti kami. Tapi nampak terlihat lebih banyak turis asingnya dibanding lokal. Sebelumnya saya sempat berfikir sesampai disana kami akan langsung menuju TKP, namun karena kegiatan tersebut terbagi dari beberapa kloter atau grup sehingga kami harus sabar menunggu giliran grup kami tiba jadwalnya.



Lumayan banyak berbincang dengan Bapak pemilik travel agent tersebut khususnya mengenai customer-customernya. Jadi cerita Beliau, bahwa sebagian besar tamu yang datang merupakan turis asing,  untuk segi promosinya pun bisa dibilang nyaris tanpa promosi. Tetapi promosi sebenarnya dilakukan atau berjalan dari tamu yang sudah pernah menggunakan jasanya, mereka informasi biasanya menginformasikan lewat mulut ke mulut kepada sesama teman, keluarga atau kolega mereka yang ingin ke Bali khususnya kegiatan rafting. Selain itu aplikasi TripAdvisor juga sangat membantu kata Beliu, karena calon tamu juga biasanya mendapatkan referensi dari review tamu yang sudah pernah rafting di tempat Beliau, dan yang pasti efek dari TripAdvisor juga berlaku kepada kami salah satunya,  karena referensi dan review positif di TripAdvisor lah yang membuat kami memilih Graha Adventure untuk order ke Bapak kata saya hehehe...



Setelah mendapatkan giliran, maka grup kami dipersilahkan untuk bersiap-siap. Disana sudah disediakan loker untuk menaruh barang-barang seperti baju ganti dan lain-lain, kecuali barang berharga seperti HP, dompet tetap harus dibawa untuk nanti ditaruh di tas guide yang sudah disediakan. Tasnya penyimpanannya sendiri dirancang khusus kedap air agar barang yang disimpan tidak basah. Semua anggota diwajibkan memakai pelampung walapun sudah bisa berenang, selain pelampung helem juga wajib dipakai untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan seperti meminimalisir dampak benturan jika terjadi. Setelah semua perlengkapan sudah OK, kami langsung berangkat menuju TKP dengan diantar angkutan khusus disebabkan karena lokasi sungainya cukup jauh dari tempat markas tersebut.



Perjalanan menuju TKP sangat menyenangkan karena sepanjang jalan disuguhi pemandangan sawah-sawah serta perkampungan khas Ubud yang sangat eksotis. Rombongan kami terdiri dari 2 grup, pertama grup turis Australi ada 4 orang terdiri dari satu keluarga muda yaitu : Suami, Isteri, Anak Laki-laki seumuran 7 Tahun dan Anak Perempuan yang tampak tidak jauh terpaut umurnya dengan anak laki-laki sebelumnya, ditambah 1 orang Ipar atau teman si Suami atau Isteri mungkin dan masih muda juga. Untuk grup kami terdiri dari kami bertiga serta satu keluarga turis asal Singapura ras Chinese yang terdiri Bapak, Ibu dan Anak laki-lakinya yang kira-kira seumuran anak kuliahan. Sepanjang perjalanan di dalam angkutan sangat ramai oleh candaan tiga orang guidenya dan kami. Setelah angkutan berhenti karena sudah sampai, sempat saya mengira bahwa kami sudah dekat dengan sungai Ayung yang dimaksud, tapi ternyata masih jauh harus berjalan kaki lagi melewati area persawahan dan hutan yang cukup lebat. Serta menuruni banyak anak tangga menurun menuju sungai, anak tangganya cukup licin karena masih basah. Sekitar 15 menit kami berjalan kaki, namun semua rasa capek tidak terasa karena disepanjang jalan pemandangannya sangat indah.





Sesampainya kami di TKP alias Sungai Ayung, saya langsung terpesona dengan pemandangan sekitar, dari sungai yang sangat jernih dan bening dengan arus yang deras serta hutan lebatnya. Banyak terlihat rombongan-rombongan dari travel agent lain yang juga lewat di sungai itu, karena hari itu adalah hari Minggu sehingga kondisi ramai. Rasanya saya sudah tidak sabar lagi untuk langsung terjun ke sungai, namun pada saat itu kami tidak langsung eksekusi karena para guide harus mempersiapakan perahu karetnya terlebih dahulu. Disela waktu menunggu, kegiatan narsispun sudah tak terelakan, cekrek-cekrek momen alaypun telah diabadikan dengan selamat hehe.. Setelah semua dinyatakan siap oleh guide, maka kami langsung menuju perahu karet dan duduk manis di tempatnya masing-masing. Saya sengaja memilih tempat duduk paling depan karena ingin merasakan sensasi lebih ketika menemukan jeram. Sebelum start kami di briefing dahulu terkait prosedur-prosedur yang harus dilakukan ataupun jika terjadi keadaan darurat.






Setelah semuanya dipastikan siap, kami langsung start... Si rombongan bule Australi dengan perahu sendiri serta guide sendiri juga, begitu juga romnongan kami. Awalnya jeramnya tidak terlalu besar, tapi semakin kesini jeramnya semakin besar dan emejing. Wuih... sesasinya luar biasa, apalagi ketika menemukan jeram yang sangat deras dan besar, antara takut jatuh dan penasaran campur aduk jadi satu hehehe...(lebay ya?). Hampir sepanjang kegiatan itu kami tidak henti-hentinya menjerit dan tertawa apalagi si guide selera humornya bagus sehingga ada saja bahan candaanya. Apabila kami berpapasan dengan rombongan lain maka biasanya kami akan beradu siram air dengan mereka, sehingga suasana menjadi tambah heboh dan penuh tawa. Kadang terjadi tabrakan demi tabrakan dengan perahu turis sehingga mengakibatkan perang airpun tak terelakan, namun justru disitulah yang bikin semuanya jadi heboh dan emenjing. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat luar biasa indah, hutan lebat dan tebing batu hitam tinggi yang mengapit sungai tersebut. Tebing-tebing banyak yang sengaja dipahat dengan berbagai motif pahatan  yang sempurna sehingga menjadikan perpaduan yang sangat menajubkan antara tebing, sungai dan karya seni. Sayang saat itu kami tidak bisa cekrek-cekrek untuk mengabadikan momen, karena HP saya berada di dalam tas si guide.






Di tengah-tengah aktifitas jeram, kami sempat singgah untuk melakukan aktifitas lain. Ada dua titik yang mejadi tempat persinggahan, pertama adalah di lokasi air terjun. Disana kami semua turun dari perahu untuk bermain-main air di air terjun tersebut serta bernarsis ria. Setelah beberapa menit disana kami lanjutkan rafting. Setelah cukup lama kami mampir lagi dipersinggahan ke dua, disini kami turun lagi dari perahu dan berenang-beranang serta naik-naik tebing dan terjun lagi ke air. Di tempat persinggahan ke dua ini suasananya sangat ramai, karena hampir semua turis yang rafting pada saat itu juga singgah untuk sekedar minum-minum atau hanya duduk-duduk. Disini ada terdapat warung pinggir sungai yang menyediakan berbagai minuman dari es kelapa muda, softdring dingin, serta minuman yang mengandung alkohol. Selain menyediakan minuman warung itu juga menyediakan Pop Mie serta makanan kecil lainnya. Kami memutuskan untuk membeli Pocari Sweat yang tujuannya untuk menggantikan ion tubuh yang sudah mulai terkuras oleh kebanyakan tertawa :D dan kacang kulit dengan tujuan untuk aktifitas jari agar kembali aktif dan tidak kaku, serta tidak lupa untuk narsis-narsis lagi hehe... :D







Setelah merasa puas untuk berenang dan terjun dari tebing, maka kami segera kembali melanjutkan perjuangan. Keseruan terjadi sepanjang perjalanan, kami sangat menikmati kegiatan itu. Tidak rugi jauh-jauh datang dari Kuta ke Ubud, karena semua benar-benar worth it. Perjalanan semakin kesini kami banyak melewati area persawahan indah dan villa-villa mewah di pinggir sungai atau diatas tebing. Total perjalanan rafting kira-kira tiga sampai empat jam, sangat puas pastinya. Akhirnya kami sampai juga di ujung perjalanan atau tempat tujuan terakhir, yang artinya kami harus menyudahi keseruan ini. Tempat pemberhentian ini terletak disamping vill mewah, namun pas melihat anak tangga untuk menuju ke atas atau jalanan kampung kondisinya menanjak sangat tinggi dan jauh, hedehh dalam hatiku ini bisa membuat kaki menjadi pegal dan keram nantinya. Namun saya tidak khawatir karena kemungkinan besar keram itu tidak akan terjadi pada kaki saya, karena kaki saya sudah terbiasa dipakai beraktifitas jogging, kecuali yang jarang jogging pasti nanti malamnya akan keram hehehe..



Cukup melelahkan ternyata perjalanan ke atas dengan menaiki ribuan anak tanggal, yang pasti ngos-ngosan sekali saya. Tapi saya sedikit heran ketika melihat turis-turis asing yang berjalan seperti tidak ada lelah-lelahnya, apalagi pada saat itu ada turis Jepang yang sudah tua namun sangat lincah sekali berjalan di tangga itu. Setelah sampai di atas di tepi jalan, kami tidak langsung naik angkutan, karena menunggu sebentar angkutannya belum datang dari sehabis mengantar rombongan sebelumnya. Setelah jemputan datang kami langsung naik dan meluncur menuju tempat berkumpul pertama tadi. Akhirnya sesampai disana kami harus mengantri kamar mandi untuk berbilas, disana ada tersedia dua kamar mandi prasmanan yang terdiri untuk pria dan kamar mandi wanita (saya bilang prasmanan karena kamar mandinnya dibikin beser dengan beberapa pancuran air atau shower, jadi yang mandi gabung). Saya memilin kamar mandi privat satu kamar.



Setelah kegiatan berbilas dan berganti pakaian selesai, kami langsung diarahkan untuk makan siang, namun sebenarnya pada saat itu sudah bukan jam makan siang lagi tetapi sudah mulai sore. Makanan disediakan prasmanan dengan berbagai menu dan yang pasti semua menu sengaja merupakan sajian halal kata Bapak pemiliknya, agar aman dimakan bagi semua umat. Pada saat itu cuaca berubah total menjadi hujang yang sangat deras dan angin kencang berbeda sekali dari keadaan sebelumnya yang sangat cerah. Disana peserta juga ditawari apabila ingin membeli dokumentasi kegiatan rafting barusan, dokumentasi yang ditawarkan berupa foto dan video, namun juga bisa menebus salah satunya saja. Kami memilih untuk membeli dua-duanya yaitu foto dan videonya, ongskos penebusan dokumentasi sendiri diluar dari paket rafting yang sudah dibayar sebelumnya. Setelah semua sudah benar-benar selesai kami memutuskan untuk langsung kembali pulang ke Kuta, yang pasti diantar kembali oleh driver yang menjemput kami pagi tadi. Sepanjang perjalanan hujan deras belum juga berhenti, kami sempat terjebak sedikit macet karena ada pohon tumbang disana. Drivernya cukup asik juga diajak ngobrol, sehingga untuk perjalanan besoknya kami memilih order Bapak itu sebagai drivernya. Sampai di Kuta seingat saya waktu sudah magrib, kami lanjut untuk istirahat tidur sebentar karena sudah sangat mengantuk karena disebabkan sebelumnya sudah melek seharian. setelah istirahat dan tidur sebentar selesai saya langsung mandi lagi dan bersiap berangkat lagi untuk mencari makan malam dan kelayapan ke Legien lagi hehe... OK sampai disini dulu ceritanya, berlanjut ke part # 4.

Sunday, October 16, 2016

Trip ke Bali Part # 2 (Bali Nightlife)

Artikel ini adalah sambungan dari artikel Trip ke Bali Part # 1 pada liburan kami Februari 2015. Sesampainya kami di bandara Ngurah Rai, perjalanan kami lanjutkan menuju penginapan di daerah Kuta yang tidak jauh dari Kuta Square. Sebenarnya saya dan Firman cukup lama menunggu Akbar di bandara dengan maksud agar kami bareng taksi ke penginapan sehingga cost bisa lebih irit, tapi ternyata pesawatnya belum muncul-muncul juga. Taksi yang tersedia di bandara cukup mahal, kebetulan pada saat itu rate yang kami dapat IDR 80.000 ke Kuta, padahal jika menggunakan Blue Bird biaya yang diperlukan hanya IDR 40.000 saja.

Sesampai di penginapan Jessen Inn 2 di Kuta, terlihat tempatnya bagus dan bersih, ada taman kolam renang dan cafe sesuai dengan gambar yang tertera pada Traveloka pada saat order. seperti biasa kita langsung check in kali ini menggunakan voucher dari Traveloka yang reservasinya sudah kami lakukan jauh-jauh hari. Kamar yang kami pesan ternyata berada di lantai 2 atau 3 saya sudah agak lupa, cukup pegal kaki menaiki anak tangga karena kebetulan di hotel tersebut tidak tersedia lift. Kamar tersebut merupakan tipe double bed dan 1 extra bed (kasur tambahan) untuk kami bertiga dengan maksud agar budget bisa lebih minim. Kondisi kamarya bersih, bagus dan nyaman serta juga ada balkonnya yang menghadap ke kolam renang, namun saya pada toiletnya tidak ada exhause fan sehingga agak pengap, over all bagus sesuai dengan gambar pada web traveloka.

Setelah selesai menaruh barang-barang bawaan, kami berniat untuk keluar jalan-jalan dulu yaitu ke pantai Kuta sambil menunggu kedatangan Akbar. Dengan berjalan kaki hanya membutuhkan beberapa menit kami sudah sampai di pantai Kuta, karena penginapan tempat kami menginap tidak jauh dari lokasi tersebut. Pada sore itu di daerah pantai Kuta cukup ramai pada lalu lintasnya bahkan sampai macet. Banyak turis-turis asing yang hanya berjalan kaki seperti kami, tampaknya jika sore hari tidak direkomendasikan menggunakan mobil jika tidak ingin terjebak macet. Suasana pantai sangat ramai banyak pengunjung yang datang, dari yang hanya duduk-duduk santai saja sampai yang berenang atau yang belajar surfing. Selain pengunjung di pantai Kuta juga banyak terdapat pedagang minuman dan makanan kecil, pedaganya dari anak kecil sampai orang tua, dan yang pastinya mereka fasih berbahasa Inggris.

Setelah cukup lama kami menyusuri pantai, maka kami lanjut berkeliling ke tempat lain untuk mencari beberapa pakaian khas pantai untuk dipakai nantinya. Tidak jauh dari Pantai Kuta ada pasar tradisional yang namanya Pasar Seni Kuta Bali. Pasar ini merupakan pilihan bagi kebanyakan turis baik lokal atau asing untuk membeli berbagai pakaian khas pantai seperti baju kaos atau celana pendek dan barang-barang lainnya untuk oleh-oleh atau  hanya untuk dipakai ketika masih berada di Bali. Namun jika belanja disini harus ditawar ya karena harganya sengaja dinaikan dulu sama penjualnya. Setelah selesai belanja beberapa potong baju singlet dan celana pendek, kami lanjut ke Discovery Mall untuk mencari kebutuhan lainnya yang tidak ada dijual di pasar tradisional tadi. Discovery Mall yang berada di Jalan Kartika Plaza tidak begitu jauh dari pasar Seni Kuta menurut saya. Disepanjang jalan benyak terdapat restoran seafood dengan berbagai menu, tapi harga yang ditawarkan tidak cocok untuk wisatawan backpacker seperti kami karena harganya sangat mahal, seafood yang dijual per ons dan itu baru mentahnya belum lagi fee pada jasa-jasa lainnya.

Sesampai di mall, tiba-tiba saya mendapat telpon dari Akbar bahwa dia sudah sampai di Bandara dan akan menuju penginapan. Karena dia juga baru pertama ke Bali sama seperti saya, jadi saya sarankan saja agar taksinya mengantar ke Discovery Mall biar lebih gampang navigasinya dan dan tidak bolak-balik nyamperin kami. Setibanya dia disana kami langsung menuju beberapa department store untuk mencari beberapa pakaian. Di Centro department store tempat saya membeli kebutuhan, secara tidak sengaja kami bertemu dengan salah satu pegawainya yang merupakan orang dari Suku Banjar (Kalsel), dia mendatangi kami karena hampir disetiap percakapan saya dan Akbar menggunakan bahasa Daerah Banjar. Sempat ngobrol sebentar dengan dia, ternyata dia juga baru satu bulan merantau di Bali.

Setelah selesai dari membeli beberapa perlengkapan yang saya cari, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Sebelum pulang kami sempatkan dahulu untuk membeli makanan ringan seperti roti dan miuman segar di BreadTalk yang berada di mall tersebut. Tidak terasa ternyata hari sudah mulai gelap, kami langsung meluncur jalan kaki menuju penginapan. Disepanjang jalan saya kadang menyempatkan diri untuk bertanya mengenai harga seafood dipajang di depan restoran,  walaupun satupun enggak ada yang beli juga hehe karena harganya yang cukup mahal menurut saya.

Sesampai di penginapan kami lanjut beristirahat sejenak dan mandi untuk persiapan jalan-jalan malam ini mengitarai daerah Kuta dan Legien. Kami start setelah habis magrig, untuk makan malam kami memilih salah satu warung makan padang yang tidak jauh dari penginapan kami kalau tidak salah ya...karena sudah rada lupa, setelah perut terisi sempurna kami lanjut menuju jalan di pesisir pantai tepatnya adalah Jl. Pantai Kuta. Malam keadaan di sepanjang jalan sangat ramai, cuaca juga sangat bagus, angin laut cukup sepoi-sepoi namun tidak terasa dingin. Cukup jauh kami berjalan menyusuri keramaian malam di Kuta, akhirnya kami sampai di depan mall BeachWalk yang bangunannya menyatu dengan salah satu hotel bintang lima yaitu Hotel Sheraton di pantai Kuta. Namun barang-barang yang dijual pada mall tersebut mahal-mahal jadi tidak ada yang bisa dibeli.

                                Foto dengan Akbar di depan Starbuck Pantai Kuta foto by Firman 

Pada saat itu waktu sudah menunjukan sekitar jam 10.00 malam, tempat yang akan kami kunjungi selanjutnya adalah daerah Monumen Bom Bali di Legien. Dari tempat kami berada saat itu untuk sampai ke monumen kami cukup melewati Jl. Poppies II karena ujung jalannya langsung memotong searah pada titik yang kami tuju. Di ujung jalan Poppies posisi sudah hampir mendekati Legien sempat sedikit macet, sehingga beberapa pengendara motor naik ke atas trotoar dan kebetulan pada saat itu juga ada bule yang naik ojek dan motornya juga naik ke trotoar teriak-teriak kaya orag gila sehingga membuat sedikit heboh suasana pada saat itu.

Sesampai di Legien Monumen Bom Bali saya melihat kondisinya sangat ramai karena hampir disepanjang jalan banyak berjejer Bar ataupun Club yang sambil memutar musik dengan genre EDM satu sama lain. Pengunjung lokal banyak yang berfoto-foto di monumen tsb termasuk juga kami, setelah puas berfoto-foto dan duduk-duduk manis kami lanjut untuk nongkrong-nongkrong cantik di salah satu bar. Setelah bolak-balik masuk keluar di bar yang ada disana karena kurang cocok dengan tempatnya, maka terakhir kami putuskan untuk masuk ke salah satu club disana yaitu Sky Garden Club. Pada malam itu tampak banyak pengunjung yang masuk, pemeriksaanpun yang diberlakukan terhadap tamu cukup ketat. Ternyata club tersebut merupakan komplek cafe, restoran dan bar, club nya sendiri terdapat pada bagian agak kedalam dan dilantai 3 kalau tidak salah. Karena sudah lewat jam 09.00 pm malam maka setiap pengunjung yang ingin masuk ke club harus membayar dahulu sebesar IDR 150.000 pada malam itu, tarif masuk tergantung dari DJ yang akan perform, semakin terkenal DJ nya maka semakin mahal tarif yang dikenakan. Pada malam itu kebetulan yang perform adalah DJ Rave Radio dari Brisbane, Australia kalau tidak salah. Dan jika dilihat dari papan reklame dan poster-poster yang tertempel, ternyata club tersebut setiap malam selalu mengundang DJ international TOP 100 DJs versi DJ Mag untuk tampil, bahkan tahun lalu DJ favorit saya Afrojack pernah perform disana.

Setelah entry fee dibayar setiap tamu akan diberi voucher minuman gratis sebanyak 2 botol atau pc, tamu diberi pilihan minuman yang mereka suka. Saya kebetulan bukan jadi tidak begitu paham dengan jenis minuman yang ditawarkan. Akhirnya saya memilih minuman Smirnoff dengan rasa apel, minuman ini merupakan jenis premix vodka yang pasti bukan bir, serta rasanya lumayan enak dan manis hehe.. Karena kebetulan saya adalah seorang EDM Addict atau penggemar berat musik elektro, jadi tempat itu merupakan tempat yang sangat saya sukai walaupun saya bukan pecandu alkohol. Pada malam itu pengunjungnya banyak namun tidak terlalu padat. Menurut saya sekitar 70% pengunjungnya adalah turis asing, karena terlihat tampak dari wajahnya bukan wajah Indonesia alias bule, selain bule juga tampak turis dari Cina atau Jepang dan juga India.

Beberapa macam pertunjukan sudahkami nikmati terutama saya yang sangat menikmati, yaitu dari residence DJ yang merupakan DJ lokal, pertunjukan sexy dancer, atraksi tari menggunakan sehelai kain yang menjuntai dari atas serta atraksi tarian dengan api yang pasti semua diiringi oleh musik khas EDM yang kencang dan ber beat cepat. Kemudian tibalah saatnya DJ asal Ostrale atau kalau tidak salah yang terdiri dari duo DJ untuk perform pada malam itu dengan musik EDM progressivenya. Musiknya enak bingit, drop-dropnya mantabhhh bikin gak berhenti goyang khususnya saya hahaha...pokoknya pecahhhhh...., pecah atas pecah bawah istilah anak-anak The Remix sekarang. Saking antusiasnya pengunjung, sampai-sampai dance floor dekat deck DJ dipenuhi pengunjung termasuk saya juga ikut menyanyikan lagu-lagu hits Billboard Hot 100 yang diremix. Dismping itu Duo DJ RR  sangat atraktif sekali menyapa pengunjung.

                                                      Duo DJ RR lagi perform foto by saya 

Setelah puas berjam-jam berparti-parti ria, ternyata waktu sudah menunjukan sekitar jam 2 atau 3 pagi lupa juga tepatnya, maka kami langsung beranjak untuk pulang ke hotel. Setelah keluar dari Sky Garden, eh bukannya sunyi diluar tepatnya sekitaran monumen dan bar malah semakin rame, jalanan terlihat cukup sibuk. Terlihat banyak pengunjung berkumpul di kawasan itu, dari yang hanya duduk-duduk saja, joget-joget di bar, sampai yang teler nda karuan. Karena besok pagi ada rencana ke Ubud maka malam itu kami harus istirahat agar aktivitas besoknya fresh kembali. Sesampai di penginapan saya lengsung menuju kamar mandi untuk mandi menyegarkan badan agar tidurnya pulas dan bangun pagi menjadi fresh lagi. Bersambung ke part # 3 ya...

                                Itu saya dibelakang yang pake baju biru, foto by Sky Garden   

                                  Suasana club dari lantai atas, foto by Sky Garden

Saturday, October 1, 2016

Pengalaman Pertama Belajar Bikin Musik EDM dengan FL Studio




Saya memang salah satu penggemar EDM (Electro Dance Music) akut walaupun saya bukan anak party hehe, kesukaan saya terhadap musik genre ini memang sudah sangat lama yaitu dari jaman-jamannya Tiesto dan Armin Van B. Dari awal saya mulai kenal musik mereka, saya langsung jatuh cinta dengan EDM, karena memang saya orangnya tidak suka yang namanya baperan apalagi galau, tapi kadang-kadang ya ada sih masih cuman kadarnya mungkin tidak separah orang-orang kebanyakan, nah pertanyaannya apa hubungannya? J jadi hubungannya musik EDM identik dengan fun atau ceria karena musiknya berkompisisi beat cepat. Sebenarnya selain EDM saya juga menyukai genre musik lainnya yaitu POP dan Jazz, dan saya paling tidak suka yang namanya musik mellow karena jujur saja menurut saya mendengarkan musik mellow membuat mood saya jadi dingin dan malas. Beda dengan EDM apapun suasana hati pada saat itu maka bawaanya selalu fun dan lupa dengan yang namanya masalah hehe...

Karena kegemaran saya mendengarkan EDM itulah membuat saya penasaran untuk mengetahui bagaimana cara membuatnya. Saya coba cari-cari di gugel mengenai aplikasi yang digunakan dan tutorial bagaimana cara membuatnya. Namun banyak artikel yang saya dapat tidak banyak membantu, isinya hanya penjelasan-penjelasan definisi dari EDM dan aplikasi FL Studio tersebut. Sampai akhirnya saya coba mencari di forum Kaskus, eh secara tidak sengaja saya menemukan salah satu thread yang saya benar-benar cari yang di post oleh salah satu pengguna. Pada thread tersebut juga terdapat postingan “embed” link SoundCloud si pembuat thread itu, iseng-iseng saya coba putar secara streaming postingan tersebut, wooowww!! Itu adalah kata pertama mendengar hasil lagu EDM ciptaannya. Wah mantap nih kataku, karena kebanyakan artikel-artikel yang saya baca di blog sebelumnya hanya menjelaskan saja dan tidak ada hasil ciptaannya diposting, jadi kita tidak tau apakah orang ini hanya tau secara teori saja atau benar-benar paham. Beda sekali dengan thread kaskus yang saya baca benar-benar sudah suhuu...dan sudah ada hasil karya yang emejing menurut saya. Jadi saya berfikir dia yang bukan DJ saja bisa bikin, kenapa tidak saya coba juga hehee...

Tanpa fikir panjang langsung saya coba cek apliakasinya di gugel, sugguh mengagetkan saya ternyata aplikasi legalnya tersebut sangt mahal menurut saya harganya mencapai puluhan juta hedehhh gak ada duit buat beli. Setelah sekian lama berkutat di dunia gugel, akhirnya saya coba untuk pesan aplikasi illegalnya di salah satu penjual aplikasi langganan saya dan ternyata ada kebetulan nih kataku, sebenarnya sangat tidak disarankan ya untuk membeli aplikasi illegal karena sangat merugikan penemu dan developernya gaezzz. Tapi nanti jika hobi ini bisa menghasilkan uang atau saya sudah jadi orang kaya maka saya tidak akan beli aplikasi illegal apapun itu hehe...

Setelah berminggu-minggu menunggu akhirnya aplikasi pesanan saya sudah tiba dengan selamat, cukup lama nunggunya karena maklum penjualnya lagi pulang kampung pas lebaran kemarin. Cukup lama saya biarkan DVD nya tidak saya instal dahulu karena saya masih sibuk jadi rumosa. Sekitar beberapa hari yang lalu aplikasi itu baru saya instal ke PC saya, dan ternyata berhasil dengan selamat. Namun setelah di launch, lagi-lagi saya stress melihat tampilannya yang sangat penuh dengan tombol-tombol menu dan istilah-istilah yang sangat asing menurut saya. Walaupun bingun saya coba untuk memulai mengutak-atik, tapi ternyata sangat susah aplikasinya untuk dioperasikan. Kemarin Jumat 30 September 2016 pas hari off saya, karena tidak ada aktivitas selain menonton tv (maklum anak kost) maka saya juga sering menghabiskan waktu untuk menonton YouTube. Kebetulan pagi itu saya coba cari-cari lagi tutorial untuk mengoperasikan aplikasi itu, karena sebelumnya saya pernah melihat tampilan tutorial yang diposting oleh pembuat thread kaskus. Setelah saya tonton tutorialnya, ternyata sangat menarik dan sangat jelas. Tanpa fikir panjang langsung saya download tutorialnya dan saya ikut praktekan sesuai apa yang dijelaskan.

Capek dan sangat rumit itu adalah kesan yang saya dapat ketika mencoba yang pertama kalinya untuk mengotak-atik aplikasi itu. Setelah cukup lama berkutat akhirnya satu karya saya yang pertama kalinya selesai walaupun masih sangat banyak kekurangan disana sini, dari nadanya yang melenceng, efeknya suaranya kurang dan banyak lagi. Namun saya sudah cukup puas dengan hasil tersebut, karena jujur saja ini adalah pertama kalinya saya menyentuh aplikasi tersebut ditambah lagi harus belajar sendiri via medsos alias tidak ada yang ngajarin hehehe... Menurut saya pribadi bahwa orang-orang atau DJ yang sering bikin lagu/musik EDM melalui aplikasi itu sangat kreatif dan kreatif sekali, karena dalam pembuatannya mereka dituntut membuat berbagai macam chord dan efek-efek suara agar terdengar harmony dan enak didengar hehee Berbeda sekali dengan pembuat musik seperti band yang mana disana mereka punya banyak anggota, contohnya yang pegang gitar sendiri orangnya, yang pegang drum sendiri, yang pegang keyboard sendiri dan lain-lain. Tapi jika DJ mereka merangkap semuanya dan juga dibutuhkan kesensitifan pendengaran dan keteletian dan menciptakan musik hehe..
Jika penasaran dengan musik hasil belajar saya silakan ditonton dan dingarkan pada link berikut

https://youtu.be/9TrsXQO7nQI atau pada video yang saya sisipkan dibawah, tapi jangan dicela ya karena salah satu kekurangannya yaitu pada nadanya ada yang melenceng. Sekian dulu catata hari ini dan terima kasih